Friendship

Friendship
Friendship

Into the Wild

Adventure

Selasa, 29 November 2011

3 Relung

Benda-benda itu masih menumpuk di sini, sebuah kenangan dari masa lalu yang sayang dilupakan. Akan tetapi hujan itu terus turun dan mengundang rayap-rayap membangun rumah dimana-mana seperti terowongan yang panjang, dan mereka dengan lahap memakan benda-benda itu yang menyimpan suatu cerita yang lain.
Orang-orang begitu mencitai masa lalu, suatu masa yang tidak akan mereka temui kembali. Dan sekarang ketika hidup dihadapkan pada rutinitas yang membosankan, masa lalu selalu hadir dalam lamunan bersama hujan yang turun tidak henti-hentinya. Orang-orang selalu berkata, “seandainya masa itu bisa kembali, aku akan melakukan sesuatu yang sangat berbeda.”
Mereka yang mencintai masa lalu adalah mereka yang kesepian saat ini, hingga benda-benda yang sudah tidak berguna menjadi sangat berarti dan memberi rasa dekat pada teman-teman lama yang sudah memiliki hdup sendiri dan tidak punya waktu untuk bercengkerama membicarakan sekedar kenangan. Hidup terus berjalan dengan cepat dan meninggalkan sedikit ruang kosong dalam diri setiap orang. Orang-orang berlomba mencari kekayaan seolah-olah setiap orang dilahirkan dan dididik untuk menjadi tamak. Pada sisi yang lain 24.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Dan mereka sama-sama mengaku tidak punya pilihan.
Manusia menciptakan masalahnya sendiri. Ketika ia memutuskan untuk tinggal dan berkeluarga, yang dihadapinya adalah rutinitas rumah tangga yang membosankan. Pertengkaran-pertengkaran yang tidak pernah terbayangkan menjadi pelampiasan kebosanan dan kekecewaan yang datang entah dari mana. Dan mereka yang tidak berkeluarga hidup bebas dalam kesepian. Setiap hari tergambar bahwa hidup adalah jalan raya yang hiruk pikuk, ramai manusia namun tidak saling mengenal, setiap orang merasa menjadi pusat perhatian tanpa mengetahui arti dan tujuan semuanya itu.
Semakin manusia tua, waktu terasa semakin berharga. Tidak ada lagi bermain-main dengan hujan, mencari ikan di sungai yang keruh selepas hujan, duduk berdiang di depan perapian bercakap-cakap kosong sambil membakar ketela dan jagung. Yang ada hanyalah kerja dan kerja, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar menjadi orang yang lebih di masyarakat. Kita menyaksikan manusia-manusia tua itu berjuang dengan kolesterol dan lemak, namun mereka masih ngotot mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, menumpuk harga diri dan pengaruh di kantor. Mereka makan di restoran mahal, duduk di mobil mahal, memakai setelan mahal, meski mereka tahu yang dibutuhkan jiwa raga mereka hanyalah bermain-main dengan hujan, mencari ikan di sungai yang keruh selepas hujan, dan duduk berdiang membakar ketela dan jagung bersama teman-teman. Mereka berkata, itu hanyalah masa lalu, setiap orang merindukannya namun tak seorang pun mau kembali ke sana.

Sabtu, 08 Oktober 2011

0 Less is more

Believe it or not, possession is a burden. More possession won’t give you peace nor fulfillment. Keep all your stuffs and your life will be busy to manage it. A man can survive with a gulp of water and a bite of bread, why should he wants more? Greedy.
Nomadic people don’t have anything. They don’t have houses. They have a plenty time for family, friends, to play, hunt, enjoy life. They do what they really want.
Now people are doctrined that the purpose of life is to be rich, plenty of stuffs, consume more and more. Social admission, external validation, success, having and consuming more than other people. They don’t really care about global warming, pollution, hunger, war, disease. What they care is television 100 channels, new computers, fashion, and so on. They are consumers. They live to consume and consume, to be dictated by market.
They have to pay so much for such living style. They work 8-14 hours a day 6 times a week. They feel depressed but they do not have a choice. They never do what they really want. “Only rich can do what they want” they think, therefore they have to be rich, work harder and longer. Actually when they get rich, still they can’t do what they really want. They have to manage their business carefully. Business competition is tight. Now they can’t even blink an eyes and relax for their business can collapse anytime and all their effort to get their possession will be vanish. They envy common people for their life not so complicated, just work and get paid and relax in week ends with friends and families. After being rich, they have power, they have money, but still they do not have freedom. Everything is on schedule. They sleep in luxury bed with a supermodel, but they feel no peace nor fulfillment. Their smile is fake and their relation is merely a transaction. They feel unhappy deep within without knowing why. Their pig-like-body fails them to satisfy their wife on bed. More stuff make them less happy.

Kamis, 06 Oktober 2011

0 Kebahagiaan, Sebuah Ilusi

Sebuah konsep, ide, gagasan yang mempengaruhi hidup begitu banyak orang, menjadi tujuan, mimpi, cita-cita makluk yang bernama manusia. Kebahagiaan.

Menurut survei, ada dua hal yang paling sering muncul yang membuat orang bahagia;pekerjaan dan cinta. Menurut Daniel Kahneman, salah seorang peraih nobel, studi tentang kebahagiaan dapat dianalisa melalui dua gagasan, pengalaman dan memori. pengalaman bahagia dan memori bahagia merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Misalnya ketika seseorang menikmati sebuah lagu yang indah selama 10 menit, kemudia diakhir lagu tersebut terdapat kerusakan pada CD nya, maka pengalaman bahagia selama 10 menit itu pun ikut hancur oleh beberapa detik kerusakan di akhir lagu. Dengan demikian akhir sangat menentukan. Menurut Paul Bloom, salah seorang dosen psikologi di Yale Univesity, kebahagiaan manusia itu tidak sensitif oleh keadaan. Kebahagiaan tidak akan banyak berubah meskipun seseorang mengalami peristiwa yang besar (baik menyenangkan maupun menyedihkan) dalam hidupnya. Kebahagiaan tersebut pada waktu tertentu yang tidak begitu lama akan kembali pada level kebahagiaan orang tersebut seperti sedia kala. Seorang periang yang dipenjara akan tetap menjadi orang yang periang, seorang pemurung yang memperoleh kekayaan yang besar juga akan tetap menjadi pemurung setelah beberapa waktu.

Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan, dalam istilah Nietsze, kekuasaan dan kesenangan. Semua agama menyodorkan surga (baca:kebahagiaan) kepada penganutnya yang taat. Dari sisi memori dan pengalaman sendiri, yang mana memori mengungguli pengalaman, kebahagiaan (dengan demikian) hanyalah ilusi. Dan karena kebahagiaan itu tidak banyak berubah apapun yang terjadi, maka bila seseorang tidak bahagia dengan keadaannya sekarang, maka ia tidak bahagia apapun keadaanya kemudian di masa mendatang. Kebahagiaan ini membentuk sebuah track di otak manusia yang kemudian memberikan bentuk fisik seseorang tersebut, mempengaruhi bentuk rahang, postur, dan sebagainya.

Banyak orang mengira bahwa kekayaan adalah sumber utama kebahagiaan. Kebahagiaan memiliki paradoksnya sendiri. Apapun yang disebut "kebahagiaan" atau "kesenangan" levelnya akan menurun setelah diperoleh dan menjadi sesuatu yang biasa bila dipenuhi terus-menerus. Pada akhirnya orang yang mengendarai mobil dengan orang yang mengendarai sepeda memiliki level kebahagiaan yang sama karena keduanya telah menjadi "kebiasaan".