Sebelum menjadi makhluk sosial, manusia adalah makhluk individu yang memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing. Immanuel Kant dalam The Critic of Pure Reason menyebutkan bahwa setiap manusia adalah akhir/tujuan dirinya sendiri, tidak boleh hanya dijadikan alat untuk akhir/tujuan orang lain atau kelompok.
Orang yang ukuran kakinya 42 akan nyaman memakai sepatu ukuran 42, bisa dipaksa memakai ukuran 41 atau 43 tapi tidak akan nyaman. Kadang masyarakat memaksa individu untuk menjadi sama, hanya karena seluruh anggota tim memakai ukuran 45, diwajibkan semua memakai 45, yang tidak setuju dianggap semaunya sendiri, ngeyel. Di sini mulai muncul konflik, memaksakan menjadi sama adalah "non solution to non problem". Pikiran kritis dan jernih itu jarang ada di masyarakat, karena itu Socrates dihukum mati, Spinoza dilaknat dan dikucilkan.
Henry David Thoreau memilih dipenjara daripada membayar pajak yang digunakan untuk perang, tindakannya adalah Civil Disobedience.
Sebagai individu, saya setuju dengan Thoreau, Kant, dan Socrates. Kewajiban buatan manusia itu tidak ada nilainya dihadapan pikiran jernih dan kritis.
Nassim Nicholas Thaleb dalam salah satu bukunya menyebutkan bahwa di Inggris makanan kosher/halal mendominasi pasar, 60% dibanding populasi muslim yang hanya 13%, ini disebut non-negotiable minority. Bagi minoritas muslim, tidak bisa ditawar, makanan harus halal, titik, harga mati, siapapun tidak bisa memaksa mereka untuk makan makanan non halal. Saya pun sebagai individu tidak akan bernegosiasi, kaki ukuran 42 akan memakai sepatu 42 apapun kata dunia. Dalam buku berjudul "Dare to be disliked" disebutkan, manusia hanya akan bisa bahagia jika membangun hubungan horisontal bukan vertikal terhadap manusia lain, tidak ada yang boleh sok berkuasa dan memaksa individu seolah ia berada di bawahnya. "Unless one is unconcerned by other people's judgments, has no fear of being disliked by other people, and pays the cost that one might never be recognized, one will never be able to follow through in one's own way of living." (Alfred Adler)


